Home
»
Artikel Bebas
»
CERPEN: Untukmu, Sahabatku...
CERPEN: Untukmu, Sahabatku...
Written By Unknown on Jumat, 14 Februari 2014 | Jumat, Februari 14, 2014
Serasa disambar petir..!! Aku tidak percaya bahwa
kata-kata itu dapat keluar dari mulut Frandy. “Kita putus ya, Rin..” Kalimat
itu diucapkannya pelan, tapi sangat tajam dan menusuk ke dalam jantung ku. “Aku
tidak dapat menjalani ini semua, Rin. Jujur. aku tidak dapat menjalaninya jika
kita pacaran jarak jauh.” Tanpa kusadari, mataku yang sejak tadi telah berkaca-kaca,
kini serpihan kacanya berjatuhan dan hilang diserap bumi. Hanya untuk ini?
Frandy mengajakku ke taman sekolah hanya untuk ini?? Sejak tadi aku tidak sabar
menunggu bel pulang sekolah, hanya untuk mendengarkan kata-kata ini??? Suasana
menjadi sangat hening. Tak berapa lama kemudian karena tidak sepatah katapun
keluar dari mulutku, Frandy pun berkata lagi, “Rini, maafin aku ya. Kuharap
kamu ngertiin aku. Nanti kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih dari aku.
Terimakasih karena telah pernah menjadi bagian dari hidupku.” Frandy berlalu
dan perlahan lenyap diiringi dengan berjatuhannya dedaunan dari pohon taman.
Ya, pohon yang selalu menjadi pelindung panas setiap kali aku dan Frandy main
di taman ini. Setidaknya hingga saat ini, karena aku tahu besok-besok tidak
akan lagi.
Aku terduduk lesu dan masih tidak percaya akan
kata-kata Frandy tadi. Hubungan yang telah terjalin dua setengah tahun sejak
kelas tiga SMP ini diakhirinya begitu saja hanya dengan alasan tidak dapat
menjalani pacaran jarak jauh? Apa gunanya alat-alat komunikasi yang sudah canggih
serta transportasi pada zaman sekarang ini yang semakin membuat jarak tidak ada
arti dan pengaruhnya lagi? Ya, aku adalah salah satu dari sedikit orang yang
percaya terhadap LDR, Long Distance Relationship, atau familiar disebut dengan
hubungan jarak jauh. Toh kita masih tetap bertemu walau tidak sering-sering
lagi. Komunikasi kan bisa setiap hari, bukan seperti dulu lagi yang harus
tulis-tulis surat yang kita tidak tahu itu pasti akan sampai atau tidak. Entah
ini salah siapa. Salah Frandy yang berbeda prinsip denganku, salahku yang
menerima cintanya dua setengah tahun silam, salah sekolah yang telah
mempertemukan kami, atau salah papa yang tiba-tiba akan pindah kerja dari
Jakarta ke Medan. Entahlah.. Tapi daripada memikirkan hal yang tidak masuk akal
seperti itu, keputusan yang paling masuk akal adalah pulang ke rumah dan
meninggalkan taman yang sudah sepi ini. Akan berbahaya jika sendirian di sini,
di bawah pohon rindang lagi. Hii…
Terpaksa aku harus menunggu angkot untuk pulang,
karena tadi sengaja menelepon Pak Rusdi kalau aku akan mengikuti kegiatan
mendadak jadi agak lama pulangnya. Sengaja tidak meneleponnya sekarang lagi.
Akan menjadi sebuah hal yang membosankan jika menunggu dia datang lagi ke
sekolah yang sudah sangat sepi ini. Lagian aku tidak mau terlalu merepotkannya.
Dia sudah seperti keluarga bagiku dan bagi ayah karena sudah sepuluh tahun
lebih dia mengabdi menjadi supir keluarga. Sejak aku kecil, dia adalah teman ku
bermain di taman rumahku. Maklum, papa selalu sibuk dengan pekerjaannya di
kantor. Aku tidak pernah protes akan hal itu, karena aku tahu semua itu untuk
ku juga. Apalagi sekarang papa sudah sendiri setelah ditinggal oleh almarhum
mama ketika melahirkan adikku, Rado. Aku akan menambah bebannya di kantor jika
aku terlalu banyak menuntut lagi kepadanya. Tiba-tiba aku merasa bersalah
karena tadi sempat mengkambinghitamkan papa atas masalahku dengan Frandy.
Di gerbang sekolah tempat aku menunggu angkot,
seseorang tiba-tiba menyapaku. Seorang gadis, cukup manis dan sepertinya
seumuran denganku. “Hai mbak, nunggu angkot mau pulang yah?” tanyanya dengan
ramah. Iya nih, angkotnya lumayan lama juga. Daritadi udah nunggu.” Jawabku dengan
senyum. “Kamu, nunggu angkot juga?” aku balas bertanya. “Eh, enggak kok mbak.
Aku tinggal di belakang sekolah ini. Tadi kebetulan aja lewat, liat mbak
sendiri di sini.” Dia menjawab dengan senyum. Dia lumayan manis, rambut panjang
diikat gaya ekor kuda, dan aku suka tatapan matanya. Menunjukkan kepolosan dan
kejujuran. “Kamu tinggal di belakang sekolah? Aku tidak pernah melihat kamu
sebelumnya. Kamu sekolah di sini juga?” tanyaku dengan penasaran. Tiba-tiba
wajahnya berubah jadi sedikit murung dan matanya berkaca-kaca. Dia pun
menjawab, “Aku gak sekolah, mbak. Gak punya uang tuk sekolah. Aku dari keluarga
miskin. Yah, aku hanya bisa lihat anak-anak di SMA ini belajar dan bermain.”
Aku terkejut mendengarnya. Gadis ini tidak sekolah? Ternyata ada yang luput
dari perhatianku sejak tadi. Dia mengenakan pakaian yang agak lusuh. Ditambah
pengakuannya, mungkin dia memang orang yang kurang mampu. Aku jadi kasihan
melihatnya. “Maafin aku yah, aku gak bermaksud membuat kamu sedih.” “Iya, gak
apa-apa kok mbak.” Katanya dengan senyum. Aku suka senyuman gadis ini. Tiba-tiba
matanya terpaku kearah leherku, ke kalung yang ku kenakan. “Mainan kalung mbak
berbentuk lumba-lumba ya? Aku sangat suka dengan binatang lumba-lumba. Pernah lihat
di tv. Itu ikan yang suka nolong orang kan?” katanya dengan polos dan semangat.
“Ooh, iya iya.” Jawabku sambil spontan memegang lumba-lumba kesayanganku itu.
Memang aku selalu memakai kalung ini baik di rumah maupun ketika bepergian
termasuk ke sekolah. Ini adalah kalung kesukaanku, pemberian Frandy ketika
jadian dulu. Besi putih berbentuk dua ekor lumba-lumba. Kata Frandy, itu adalah
simbol dua cinta yang tidak terpisahkan. Hufth, aku jadi teringat lagi pada
Frandy dan masalahku dengannya setelah sejenak sempat terlupakan karena
pembicaraan dengan “teman baruku” ini.
Tak lama kemudian dari kejauhan, aku melihat angkot
yang kutunggu-tunggu datang juga. Sambil menyetop angkot, akupun segera pamit
kepadanya. “Eh, angkotnya udah datang. Yaudah aku pulang dulu yah.
Mudah-mudahan besok kita ketemu lagi.” “Iya mbak. Sesekali main ya dengan
teman-teman mbak ke belakang sekolah…”
Sampai di rumah, aku berjalan menuju kamar. Aku
melihat Rado adikku sedang bermain playstation di ruang tengah. “Kok lama
pulangnya mbak?” tanya dia sambil mata tetap ke arah monitor. “Tadi ada
kegiatan tambahan di sekolah, jadi agak lama…” “Hmmmm.. Kegiatan bersama pacar?”
katanya memotong jawabanku. Akupun segera mendekatinya dan mengacak-acak
rambutnya. “Anak kecil jangan sok tahu!” kataku sambil disambut tawa khas nya.
Rado memang masih kelas 6 SD tapi sulit untuk dikelabuhi. Kami sering berdebat
sambil bercanda karena dia sering mengomentari masalah-masalah sepele. Meskipun
begitu, aku sangat sayang kepadanya karena dia tidak pernah mengenal sosok ibu.
Akulah yang mengambil peran ibu untuk merawat dan menyayangi dia. “Sana makan,
mbak. Tadi Rado makan duluan.” Katanya. “Nggak lapar. Mbak capek mau langsung
tidur.” Jawabku sambil masuk ke kamar, tentunya tidak tidur. Seakan kalah
penting dengan nasib hubunganku dengan Frandy, aku terus memikirkan gadis di
gerbang sekolah tadi. Aku merasa iba kepadanya. Seandainya waktuku masih banyak
di sini, aku ingin sekali menjadi sahabatnya. Apa boleh buat, besok adalah hari
terakhirku di sekolah dan ada acara perpisahan di kelas untukku karena lusa
kami berangkat ke Medan. Walaupun begitu, besok di hari terakhirku di sekolah
aku berharap bertemu dengannya lagi. Sepintas ada rencana ingin memberi sesuatu
kepadanya, tapi tidak tahu ingin memberi apa. Oh iya, aku bahkan belum tahu
siapa namanya. Hufftthhh….
Wuuiiiiiinnngggg…!! Bel sekolah melengking memberi perintah
kepada semua siswa untuk apel pagi untuk SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Ketika
bubaran, aku melihat Frandy dan segera
menemuinya. “Fran, semua yang kita lalui selama ini nggak harus kita akhiri
seperti ini kan?” tanyaku sambil menatap matanya. “Apaan sih Rin? Kemaren kan Frandy
udah mutusin kamu. Jangan ganggu lagi dong! Frandy cowo aku sekarang. Kemarin
kami baru aja jadian!” Lina tiba-tiba datang entah darimana dan mengatakan
pernyataan yang membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi. Lina adalah temanku
sejak masuk SMA di sini walau kami berbeda kelas karena Lina satu kelas dengan
Frandy. Bahkan dapat dikatakan kami telah menjadi sahabat. Tidak percaya apa
yang telah sahabatku lakukan terhadapku. “Maafin aku ya Rin. Aku gak bisa pacaran lagi
denganmu. Kamu akan pergi jauh dan aku telah jadian dengan Lina.” Kata Frandy.
Aku tidak perduli lagi, segera berlari menuju kelas
dengan airmata berjatuhan. Fikiranku tidak lagi pada pelajaran di kelas karena
terganggu oleh apa yang telah dilakukan oleh Frandy dan Lina kepadaku. Kalaupun
ini terjadi, pacaran ya pacaran aja. Seharusnya tidak menunjukkan kepadaku. Toh
besok aku udah pergi. Aku tidak peduli lagi, ingin agar waktu di sekolah segera
berlalu dan berjumpa dengan gadis di belakang sekolah, lalu segera pulang!
Bel tanda sekolah telah berakhir pun berbunyi dan
tibalah acara singkat perpisahanku dengan teman-teman satu kelas. Berat juga meninggalkan
teman-teman yang selama ini bersama-sama melalui hari-hari ceria di kelas.
Banyak yang memberi kenang-kenangan, saling berjanji akan tetap komunikasi satu
sama lain, dan diakhiri dengan foto bersama. Tujuanku setelahnya adalah ke
belakang sekolah untuk bertemu dengan
gadis yang baru aku kenal semalam. Aku berjalan keluar gerbang sekolah,
lanjut menuju kompleks di belakang sekolah, namun aku belum melihat gadis itu. Sulit
jika bertanya kepada orang sekitar karena namanya pun aku belum tahu. Agak lama
mencari, akupun mulai menyerah dan berniat untuk pulang saja. Mungkin dia
sedang pergi ke suatu tempat membantu orangtuanya atau apalah.
Tiba-tiba ada keramaian. Banyak anak-anak teriak
sambil bernyanyi. “Orang gila.. orang gila.. orang gila..” Sambil tertawa mereka
melempari seseorang dengan botol plastik minuman mineral. Seorang ibu yang
tinggal dikompleks pun segera datang mengusir anak-anak tersebut. Setelah
anak-anak itu pergi, akupun dapat melihat dengan jelas orang yang dilempari
itu. Astaga!! Itu gadis yang kemarin! Itu gadis yang kucari sejak tadi. Dia terduduk
di tanah dan memeluk lutut sambil menangis. Rambutnya sudah acak-akan dan
wajahnya penuh pasir serta di bajunya banyak lumpur. Aku tidak percaya dengan
apa yang kulihat. Benar-benar tidak percaya! Ibu tadi bertanya kepadaku, “Mencari
siapa, dik?” Tanpa mengalihkan pandanganku ke gadis itu, aku menjawab, “Aku
mencari dia, Bu. Semalam aku bertemu dan ngobrol dengannya. Apa yang terjadi
dengan dia, Bu?” “Oh, dia ini memang punya keterbelakangan mental. Dia kurang
waras, tapi kambuhan. Kasihan juga melihat dia sering diganggu oleh anak-anak
di komleks ini.” Kata ibu itu sambil berlalu. Makin tak percaya dengan apa yang
aku dengar dan lihat, aku pun menunduk dan melihat wajah gadis itu di sela-sela
rambutnya yang acak-acakan. Wajahnya penuh dengan air mata. “Hei, kamu masih
ingat aku?” tanyaku pelan. Sejenak, dia memandang mataku dan kembali lagi
menunduk dan menangis. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Tanpa kusadari,
airmataku pun ikut menetes di pipi. Aku mengangkat dagunya, kemudian
menyingkirkan rambutnya ke balik telinganya agar tidak menutupi wajahnya. Kubuka
kalung lumba-lumba yang ada di leherku, lalu ku kalungkan ke lehernya. Matanya
seketika menjadi berbinar. Aku melihat ada secercah sinar kebahagiaan terpancar
dari matanya. Dia memegang lumba-lumba itu dengan erat sambil mulutnya terbuka
seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Sambil menyeka air matanya, kukatakan
dengan pelan di depan wajahnya, “Lumba-lumba ini untukmu. Ya, ikan yang suka
menolong orang. Jaga dirimu ya, sahabatku. Pertemuan kita memang singkat, namun
akan kuingat kamu selama hidupku.”
Akupun segera bangkit, membalikkan badan dan berjalan
pulang dengan terus menitikkan air mata. “Jaga dirinya, Tuhan. Sembuhkan dia.
Dia sahabat terbaik yang pernah kumiliki, walau bahkan aku tidak pernah tahu
siapa namanya.”
Related Articles
Terima kasih telah membaca artikel dari blog saya . Silahkan like, tweet, share atau klik google plus jika Anda menyukainya. Tidak dilarang jika Anda mengutip ataupun mengcopy sebagian atau seluruhnya isi postingan di blog ini, namun tolong cantumkan link sumbernya.
2 Komentar Blogger
Mengharukan...
BalasHapusAssalamualaikum wrb,saya Rahman saputrah, niat saya hanya ingin berbagi kebaikan khusus kepada orang yang mengalami kesusahan,percaya tidak percaya semua kembali pada pembaca postingan saya, awalnya saya seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses, tapi banyak yang tidak suka kalau saya sukses,dan akhirnya bisnis saya bangkrut dan saya sempat jadi Pengangguran kurang lebih 1tahun saya punya anak 3 dan masih kecil2,saya sempat putus asa dan tidak tau mau berbuat apa, tapi setiap saya melihat anak saya, Saya merasa kasian, dan kemarin tampa disengaja ada Teman saya memberi saran dia menyarangkan saya untuk menghubungi Mbah jonoseuh, beliau memberikan bantuan Pesugihan, awalnya sih saya ragu tapi mau nggak mau saya beranikan diri mencoba bantuan dari Mbah jonoseuh. syukur Alhamdulillah dengan bantuan pesugihan beliau saya sekarang sukses kembali dan saya bisa biayai sekolah anak saya sampai selesai,terimah kasih Mbah berkat Mbah saya bisa sukses kembali,ini pengalaman pribadi saya khusus bagi teman2 yang sempat baca dan punya masalah silahkan hub Mbah jonoseuh di nomor 082344445588 dan pasti beliau bisa meringankan semuah permasalahan yang anda hadapi untuk saat ini, Dan terimah kasih kepada yang punya room ini karna saya sempat berbagi pengalaman dan mudah2han bisa membantu,
Hapus