Home » » Yosef dari Cupertino. Santo Penuh Karunia yang Dapat Terbang

Yosef dari Cupertino. Santo Penuh Karunia yang Dapat Terbang

Written By Freshly Michelangelo on Rabu, 05 Juni 2013 | Rabu, Juni 05, 2013

Santo yang dapat terbang
Santo Yosef dari Cupertino

Yosef lahir di Cupertino, Lecce, Italia Selatan pada tanggal 17 Juni 1603. Keluarganya miskin sesuai dengan pendapatan ayahnya sebagai seorang tukang sepatu. Namanya sejak kecil adalah Yosef Desa. Di sekolah ia terkenal bodoh dan lamban. Tugas-tugas sekolah yang paling mudah pun tak mampu diselesaikannya. Kesehatannya pun selalu terganggu hingga ia berusia 10 tahun. Meskipun begitu ia bercita-cita tinggi. Tuhan kiranya mempunyai rencana khusus atas dirinya dengan menganugerahkan kepadanya kemampuan ber-ekstase. Untuk defenisi ekstase, silahkan cari sendiri di google karena menurut saya sulit untuk menjelaskannya. Dari semua pengertian, dapat saya simpulkan bahwa ekstase adalah orang yang bersemedi hingga diluar kesadaran atau singkatnya dapat dikatakan “pencerahan”. Karena itu kawan-kawan sekolahnya menjuluki dia: "Si mulut ternganga" (kebiasaan orang berekstase).

Kesehatannya, yang selalu terganggu oleh berbagai penyakit, membuat ibunya hampir-hampir putus asa. Banyak uang dihabiskan untuk biaya perawatan. Suatu hari ibunya membawa dia kepada seorang pertapa yang tinggal tak jauh dari Kupertino, untuk meminta doa penyembuhan. Akhirnya berkat doa-doa sang pertapa dan iman ibunya, Yosef dapat sembuh dari penyakitnya.Cita-citanya menjadi seorang biarawan mulai dipikirkannya lagi. Ia lebih tertarik pada cara hidup Santo Fransiskus Asisi dan bermaksud menjadi pengikutnya. Pada usia 17 tahun ia diterima dalam novisiat bruder-bruder Kapusin. Tetapi segera tampak bahwa Yosef adalah pemuda yang minder, bodoh, banyak melakukan kesalahan dalam tugasnya. Oleh karena itu setelah 8 bulan di dalam biara, Yosef dikeluarkan. Memang ia sedih namun tidak berputus asa. Ia tetap berusaha untuk meraih cita-citanya. Dengan pertolongan pamannya, seorang imam Konventual, ia diterima di dalam biara itu. Ia ditugaskan menjaga kuda-kuda di Grotela dan sesekali ditugaskan mengemis di kota untuk kepentingan biara. Tugas-tugas ini dilaksanakannya dengan sabar dan penuh tanggung jawab. 

Kehidupan doa tidak pernah dilupakannya. Lama-kelamaan ia mulai dikenal oleh seluruh penduduk kota dan rekan-rekannya sebiara sebagai seorang biarawan yang saleh. Oleh rekan-rekannya, Yosef dianggap sebagai teladan kesucian hidup. Melihat kemajuan hidup rohaninya yang besar, pimpinan biara mengizinkan dia memasuki masa novisiat dan selanjutnya mengizinkan dia mempersiapkan diri untuk menjadi imam. Berkat Tuhan menyertai dia. Pada ujian penghabisan, Yosef dinyatakan lulus dengan baik dan layak ditahbiskan menjadi imam, pada tahun 1628. Anehnya, walaupun Yosef sulit sekali membaca namun ia dapat memecahkan masalah teologi yang rumit-rumit. Rahmat Tuhan pun makin lama makin berlimpah. Ia dianugerahi karisma dapat terbang, mampu meramal dan menyembuhkan penyakit.

Pada tanggal 4 Oktober 1630 di Cupertino diselenggarakan suatu prosesi untuk menghormati Santo Fransiskus. Tiba-tiba Yosef melayang ke udara  dan tetap dalam ekstase serta tak bergoyang di depan mata orang banyak yang takjub dan bingung. Suatu suara dalam batinnya membujuk dia untuk membuang segala sesuatu demi Kristus.  Ketika ekstase itu berakhir, Yosef yang merasa malu dan kikuk langsung lari ke rumah ibundanya untuk membagi-bagikan potongan-potongan terakhir dari pakaian dunianya. Sejak saat itu dia hidup untuk Tuan Puteri Kemiskinan dengan penuh ketaatan. Dia minta para confraternya memanggilnya sebagai hamba dari biara. Dia memilih tindakan mortifikasi yang paling keras, tidak makan roti, daging dan tidak minum anggur. Dia makan dedaunan dan buah-buahan. Meskipun lemas, dia akan selalu merasa disegarkan kembali dan diperkuat setelah merayakan kurban Misa. Kehidupan Yosef terlihat mulai berubah. Ekstase-ekstasenya lebih sering terjadi setiap harinya. Mendengar nama Yesus dan Maria saja sudah menyebabkan dia masuk ke dalam ekstase dan akan tetap begitu sampai kekuatan supernatural meninggalkan dirinya atau apabila superiornya memerintahkannya untuk kembali ‘normal’ demi ketaatan yang suci. Melayang di tengah-tengah Misa sudah merupakan kejadian sehari-hari. Bahkan di siang hari pun, manakala rohnya bernyala-nyala dengan devosi, Yosef akan terangkat ke atas sampai ke sebelah atas dari altar, atau pohon atau gambar untuk devosi lainnya. 

Pelataran altar di gereja Grottella menjadi tempat yang penuh kesibukan. Kekaguman dan ketakjuban umat setiap kali Yosef mengalami ekstase atau pengangkatan ke atas membuat gereja menjadi ribut dan gaduh seperti sebuah pasar. Selagi mengalami ekstase Yosef dapat terlihat menangis, berteriak, bahkan mengakukan dosa-dosanya sendiri. Banyak orang  akan mengelilinginya di dekat altar untuk sebisa-bisanya menyentuh orang kudus ini. Mereka mengamati Yosef dari segala sudut, menggerak-gerakkan lengannya. Ada yang menusuknya dengan jarum atau dengan menyentuhnya dengan api, sampai saat superiornya datang untuk menenangkan situasi. Setelah diperintah oleh superiornya, dengan rasa malu Yosef kembali menjadi dirinya sendiri, kemudian melanjutkan Misa. Yosef sendiri lebih suka merayakan Misa secara privat atau tidak samasekali. Namun ketaatan dan suatu kekuatan pendorong lebih kuat daripada hasrat akan kedinaan dan keheningan. 

Kejadian luar biasa yang dialami Yosef tidak berhenti dan biasanya disaksikan orang banyak. Ia terbang di atas kepala orang-orang yang ada di dalam gereja dari pintu gereja sampai ke altar. Ia pernah terbang ke puncak pohon zaitun dan bergantung di situ sambil bermeditasi. Anehnya dahan pohon itu tidak melengkung sama sekali. Semuanya itu menarik minat banyak orang termasuk rekan-rekannya. Dengan sendirinya rumah biara selalu dikerumuni banyak orang untuk menemui Yosef. Oleh sebab itu, pemimpin biara memindahkan dia ke biara yang terpencil selama 35 tahun hingga wafatnya.
Karena suka melayang dalam ekstasenya, dia dikenal sebagai The Flying Saint. Karena itu pula dia dijadikan orang kudus pelindung bagi orang-orang yang bepergian dengan pesawat udara dan juga bagi pilot-pilot NATO. Dia juga diangkat menjadi orang kudus pelindung bagi para siswa/siswi (mahasiswa/mahasiswi) yang  mau mengikuti ujian-ujian. Pemakamannya di Osimo merupakan pusat ziarah dan devosi, pada saat yang sama menjadi kebanggaan kota itu. Di Cupertino sendiri, dalam kandang hewan di mana orang kudus ini dilahirkan ada tempat relikui yang berisikan jantungnya, sebuah tempat di mana orang-orang datang berduyun-duyun guna menumpahkan isi hati mereka. Tidak sedikit para ilmuwan yang melakukan penyelidikan ilmiah atas orang kudus ini, termasuk studi-studi psikologis. Ada sebuah film tentang orang kudus ini yang berjudul The Reluctant Saint.  Yosef meninggal di Osimo, Italia, pada tanggal 18 September 1663. Dia dikanonisasikan menjadi Santo oleh Paus Klemens XIII pada 16 Juli 1767.


Terimakasih kepada:

Share this article :
1 Komentar Blogger
Silahkan Berkomentar via Facebook
Silahkan Berkomentar via Blogger

1 komentar :

  1. Sebenarnya ini tidak dikatakan terbang. Terbang berbeda dengan levitasi. Levitasi lebih mengarah kepada melayang atau mengambang. Tapi jika terbang seperti superman, sepertinya belum ada atau bahkan tidak ada manusia yang bisa.

    BalasHapus

 
Support : Kaskus | Facebook | Twitter | Kompasiana
Copyright © 2013. freshly's blog - All Rights Reserved
Kunjungi saya di Google+
Proudly powered by Blogger