Home » » Dolok Tolong; Obyek Wisata yang Butuh Perhatian

Dolok Tolong; Obyek Wisata yang Butuh Perhatian

Written By Freshly Michelangelo on Minggu, 21 Juli 2013 | Minggu, Juli 21, 2013

Objek Wisata gunung dolok tolong
Dolok Tolong berada sekitar 6-7 kilometer persis di arah barat kota Balige. Puncaknya berada di ketinggian 1200 meter dpl. Dipuncak gunung ini ditemukan bangunan menara mikcowave untuk kebutuhan sistim komunikasi satelit domestic milik Telkom.

Bila Anda berencana untuk mengabadikan kawasan danau toba dan sekitarnya dari gunung dolok tolong, hindari panas terik, karena terjadi proses maksimum penguapan air danau toba. Jadi bisa saja Samosir dan sebagian permukaan danau toba tidak nampak jelas karena tertutup uap/kabut.

Pada awal pendakian kita melihat kearah barat, tampak bentangan sawah di kecamatan Tampahan  yang dihiasi pegunungan, jalan lintas sumatera (lintas tengah, via toba) dan danau toba. Beberapa menit kemudian, kita dapat melihat kearah utara, sawah di sekitar Hinalang hingga tonjolan Tanjung Tarabunga yang menakjubkan. Bila memandang kearah Timur akan terlihat daerah Balige, Laguboti, Silaen, Sigumpar dan Porsea. Ke arah Tenggara kita dapat melihat dengan jelas dataran tinggi Sibodiala yang menjadi tetangga Dolok Tolong. Bagi mereka yang pernah sekolah di Soposurung pasti akan mengenali gunung itu, tapi mungkin belum seluruhnya pernah menikmati pemandangan dari sana.

Minggu,  22 Juli 2013 Pukul 04.00 WIB, saya dan kedua adik saya berangkat dari rumah untuk lari-lari pagi. Tujuan kami adalah Gunung Dolok Tolong. Jarak dari rumah (Balige) ke desa Longat (lokasi dolok tolong) adalah 6-7 kilometer. Suasana yang lumayan ekstrim saya rasakan selama berlari di sepanjang jalan. Pandangan yang gelap minim cahaya, udara yang sangat dingin, angin dingin yang kencang, dan jalur mendaki sejak awal dari balige. Yah, cukup ekstrim bagi saya. Kepala agak panas, telinga dan tangan seperti membeku, hidung sakit serta kadang merasa sakit di bagian dada/paru-paru. Tubuh yang terbiasa dengan hawa panas kota Medan, benar-benar harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan pegunungan. Anehnya, walaupun berlari sepanjang 7 kilometer, tidak keluar keringat sama sekali! Di sepanjang jalan, kami melihat lumayan banyak anak sekolahan yang juga lari-lari pagi ataupun yang sekedar jalan-jalan santai. Pukul 05.30, kami sampai di gerbang Dolok Tolong. Suasana masih sangat gelap dan benar-benar tidak ada lampu. Kami istirahat sejenak, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak dolok tolong. Lumayan seram, dan tidak ada penerangan sama sekali. Hanya berbekal sebuah senter dari hp, kami nekat berjalan naik ke atas. Dengan pandangan hanya pada jalur aspal yang disinari lampu hp, hal tersebut dapat dikatakan sebagai aksi nekat karena kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di kiri dan kanan. Apakah ada jurang, seorang psikopat, anaconda, kuntilanak, hiii...

Jalan menaiki dolok tolongSetelah sekitar seperempat perjalanan, alam sekitar mulai kelihatan walaupun masih samar-samar. Dan seiring berjalannya waktu, sinar matahari pun mulai merayap dan kami dapat melihat jelas pemandangan selama perjalanan. Ada beberapa hal yang menjadi perhatianku, yaitu jalan yang sudah terkesan tidak terawat lagi. Kiri-kanan jalan sudah disesaki banyak ilalang dan tumbuhan liar lainnya. Bahkan fasilitas tempat duduk semen yang dapat ditemui di beberapa tempat sepanjang jalan, sudah ditutupi oleh rumput. Sangat berbeda dengan waktu terakhir kali aku ke sini, yaitu 10 tahun yang lalu. Waktu itu ketika kelas 5 SD, rombongan satu kelas berjalan ke atas dibawa oleh frater. Kiri-kanan jalan masih terawat. Sejak saat itulah aku mengingat sampai saat ini, dolok tolong adalah tempat wisata yang benar-benar diperhatikan dan asri. Ya, setidaknya sampai saat sebelum kejadian ini.

Melihat pemandangan dari atas dolok tolongPerjalanan yang biasanya memakan waktu 3 jam, kami selesaikan dalam 2 jam. Tibalah kami di gerbang atas, yaitu kantor telkom. Di gerbang, kami terhenti karena gerbangnya dikunci. Tanpa fikir panjang kami bertiga melompati gerbang tersebut. Kami segera mencari air kran untuk menghilangkan dahaga (satu hal, kami tidak bawa bekal apapun). Di puncak tersebut, suasana juga sangat berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Semuanya terkesan tidak terawat. Tidak ada lagi ditemui bunga-bunga yang asri dan pendopo yang kulihat dulu. Semua ditumbuhi lalang dan rumput. Bahkan ada juga peristirahatan tak beratap lagi dan terkesan kotor. Sangat kecewa dengan pemandangan tersebut. Namun kekecewaan tersebut seakan-akan sirna dengan melihat pemandangan danau toba dari atas. Kabupaten Toba Samosir terlihat sangat indah dari puncak dolok tolong. Di sebelah kanan, terlihat bukit dengan pohonnya yang terkenal membentuk kata “SEJUTA POHON”, walau sudah tidak seindah dulu lagi karena kurang dirawat. Truk2 terlihat sangat kecil menjalar di janan yang berliku-liku. Timbul khayalan, betapa luar biasanya jika pemerintah kabupaten bekerja sama dengan pemerintah pusat membuat megaproyek berupa gondola dari atas sini dan berujung ke Balige atau danau Toba. Hahahaha...

Sumur SiSingamangaraja XII di dolok tolongMual SiSingamangaraja XIISetelah “sedikit” ditegur (karena melompati pagar) oleh petugas yang baru bangun, kami menyempatkan diri mengabadikan obyek-obyek yang ada di puncak dolok tolong. Kami juga menyempatkan melihat mata air (mual) yang dibuat oleh pahlawan nasional SiSingamangaraja XII. Konon, mata air itu dibuat oleh beliau dengan menusukkan tombak ke tanah. Hingga patahlah hukum fisika yang menyatakan air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Mata air tersebut hingga sekarang masih disakralkan oleh masyarakat. Mata air tersebut tetap dipelihara oleh pihak telkom dan diberi pagar pelindung. Konon katanya air itu tidak pernah kering. Yang memiliki rejeki akan menemukan air di sumur tersebut, dan yang bernasib kurang baik, air itu bisa tidak ada. Ya, itu adalah cerita masyarakat turun temurun. Anda bisa percaya, bisa juga tidak. Apapun, yang penting minumnya teh botol sosro. Bruakakakak..!!
Dan mungkin perlu juga aku tambahkan, ketika melihat sumur, airnya ada. ^_^

Begitulah kisah perjalanan saya dan kedua adik saya ke puncak dolok tolong. Saya berharap, pemerintah kabupaten Toba Samosir memperhatikan dan memperbaiki fasilitas yang ada di dolok tolong, mulai dari gerbang bawah hingga puncak. Tidak selamanya kita harus mengharapkan pihak Telkom untuk terus merawat dan memfasilitasinya karena kawasan gunung dolok tolong juga tanggung jawab bersama.
Setuju?? Akhir kata.. Glory Glory Man. United!!!!
Share this article :
0 Komentar Blogger
Silahkan Berkomentar via Facebook
Silahkan Berkomentar via Blogger

0 komentar :

Posting Komentar

 
Support : Kaskus | Facebook | Twitter | Kompasiana
Copyright © 2013. freshly's blog - All Rights Reserved
Kunjungi saya di Google+
Proudly powered by Blogger